Time is money”, sering sekali
kita mendengarkan ungkapan itu dalam kehidupan sehari-hari tetapi baru
sekarang ada sutradara yang memikirkan konsep tentang sebuah dunia masa
depan di mana kata-kata tersebut benar secara harafiah dalam sebuah
suguhan sci-fi thriller. Inilah yang coba diceritakan dalam In Time.
Will Salas (Justin Timberlake) adalah
seorang pemuda yang tinggal di daerah kumuh, di dunia di mana waktu
adalah uang. Bagi penduduk miskin yang dikumpulkan di area khusus,
mereka harus bekerja setiap hari demi mendapatkan waktu yang mereka
gunakan untuk membeli keperluan seperti makanan dan tempat tinggal,
sehingga seringnya sisa dari membeli kebutuhan tersebut hanya cukup
untuk mereka hidup hingga waktu mereka menerima upah keesokan harinya.
Dunia di mana telah ditemukan teknologi yang menghentikan proses
penuaan, sehingga semua orang berhenti bertambah tua secara fisik di
usia 25 tahun, tetapi bisa mati kapan saja jika waktu yang mereka
miliki habis. Will kemudian bertemu dengan seorang kaya dari area
Greenwich (lokasi yang diperuntukkan untuk orang yang memiliki paling
tidak ratusan tahun), yang mengatakan sudah bosan hidup dan membukakan
mata Will bahwa sistem seperti yang berjalan pada saat itu sesungguhnya
tidak adil. Karena kasihan melihat orang kaya yang mengaku bernama Henry
Hamilton ini Will menawarkan menjaganya dari niat buruk orang yang
“lapar waktu’ di daerah kumuh itu, dan ternyata keesokan harinya Will
terbangun dengan hampir seluruh waktu yang dimiliki Henry berpindah ke
tubuhnya.
Sungguh premis yang menjanjikan. Ketika
pertama kali saya mendengarkan cerita film ini, apalagi mengetahui kalau
Andrew Niccol yang menyutradarai sekaligus menulis ceritanya, saya
langsung girang. Gattaca adalah salah satu film scifi favorit saya walaupun agak underrated. Selain Gattaca, Andrew Niccol juga menulis The Terminal, The Truman Show dan Lord of War yang juga termasuk dalam daftar film-film yang saya sukai. Tetapi In Time sayangnya menjadi film dengan ide yang sangat menarik tetapi eksekusi yang mengecewakan.
Tidak ada yang saya lebih inginkan dari
rasa empati ke karakternya, tetapi Justin Timberlake dan Amanda Seyfried
rasanya terlalu steril untuk jadi believable. Seperti juga Gattaca, di sini juga Niccol tetap menunjukkan gaya dia memilih properti dan lokasi yang stylish,
sebuah setting masa depan yang tidak jauh dari masa sekaranga tetapi
ketika cerita tidak lagi bisa membawa, saya malah sempat berpikir, apa
dia mencuri mobil untuk para Timekeeper (polisi yang menjaga agar tidak ada yang mencuri waktu dan sistem berjalan lancar) dari koleksi properti Knight Rider (if you watched this one on TV, you’re old).
Secara sinematografi film ini tetap cantik dilihat, tetapi terlalu banyak plothole untuk menikmatinya tanpa timbul “loh kok?”. Ide yang bisa jadi mindf*ck of the year seperti Inception, dikembangkan dengan ekstra cheesy
oleh Niccol yang mudah-mudahan punya alasan yang baik untuk
melakukannya (kalau tidak sayang sekali idenya!). Tetapi ada berita baru
bahwa Niccol sedang menggarap film The Host yang diangkat dari novel Stephanie Meyers. I’m afraid he had moved on to the dark side and would never come back.
Trailer :
dan bagi anda yang mau download (idws) filmnya silahkan klik:
subtitle indo: Dimari Coy
kualitas filmnya: 720p Bluray x264 300mbinted
Tidak ada komentar:
Posting Komentar